Hatta Radjasa merupakan politikus partai-partai senior yang mampu bekerja dan menyatu dalam system pemerintahan yang berubah-ubah. Kematangan dan suksesnya Hatta sebagai anggota dewan, kemudian menjabat sejumlah menteri dan terakhir menjadi mensesneg, merupakan jawaban, Hatta merupakan figur pemimpin yang memang dipersiapkan PAN untuk melangkah ke Istana sejak lama.
Namun disaat Partai-Partai ribut menentukan capres dan cawapres, nama Hatta sama sekali tidak tersentuh. Bahkan Partainya sendiri PAN sama sekali tidak menjagokan Hatta sebagai calon dalam Capres dan Cawapres. PAN malah sibuk untuk menjagokan dan manaikan harga tawar Petingginya Sutrisno Bachir.
Nama Hatta baru kembali disebut partai-partai setelah sesepuh PAN Amin Rais turun gunung ikut melakukan manuver Pilpres untuk PAN. Ketika Amin jelas-jelas ingin PAN masuk dalam koalisi Demokrat, maka nama Hatta menyeruak menjadi salah satu calon pendamping SBY. Politisi kalem partai-partai ini, seolah sama sekali tidak bergerak sebenarnya. Tidak melakukan Manuver secara terbuka.
Namun banyak pihak yakin, Hatta mampu merangkul semua partai-partai temannya di DPR untuk membantu dirinya menjadi Cawapres SBY. Hanya saja, perlawanan tentu akan muncul dari PKS yang nyata-nyata sebagai partai nomor dua terbesar dalam Koalisi partai-partai dengan Demokrat, tentu akan mempertanyakan keputusan SBY, jika Hatta dipilih sebagai calon pendampingnya. Kunci Hatta untuk semakin berkibar, entah PAN di Demokrat atau PAN di Koalisi Golkar, hanya pada sepahamnya sesepuh PAN Amin Rais dengan Petinggi PAN Sutrisno Bachir.
Jika keduanya sepakat akan mengusung Hatta sebagai Cawapres, maka Langkah Hatta ke Istana semakin dekat. Namun jika tidak, manuver Hatta tentu akan berakibat buruk bagi PAN.
Namun disaat Partai-Partai ribut menentukan capres dan cawapres, nama Hatta sama sekali tidak tersentuh. Bahkan Partainya sendiri PAN sama sekali tidak menjagokan Hatta sebagai calon dalam Capres dan Cawapres. PAN malah sibuk untuk menjagokan dan manaikan harga tawar Petingginya Sutrisno Bachir.
Nama Hatta baru kembali disebut partai-partai setelah sesepuh PAN Amin Rais turun gunung ikut melakukan manuver Pilpres untuk PAN. Ketika Amin jelas-jelas ingin PAN masuk dalam koalisi Demokrat, maka nama Hatta menyeruak menjadi salah satu calon pendamping SBY. Politisi kalem partai-partai ini, seolah sama sekali tidak bergerak sebenarnya. Tidak melakukan Manuver secara terbuka.
Namun banyak pihak yakin, Hatta mampu merangkul semua partai-partai temannya di DPR untuk membantu dirinya menjadi Cawapres SBY. Hanya saja, perlawanan tentu akan muncul dari PKS yang nyata-nyata sebagai partai nomor dua terbesar dalam Koalisi partai-partai dengan Demokrat, tentu akan mempertanyakan keputusan SBY, jika Hatta dipilih sebagai calon pendampingnya. Kunci Hatta untuk semakin berkibar, entah PAN di Demokrat atau PAN di Koalisi Golkar, hanya pada sepahamnya sesepuh PAN Amin Rais dengan Petinggi PAN Sutrisno Bachir.
Jika keduanya sepakat akan mengusung Hatta sebagai Cawapres, maka Langkah Hatta ke Istana semakin dekat. Namun jika tidak, manuver Hatta tentu akan berakibat buruk bagi PAN.
- SBY-HATTA
- JK-HATTA


No comments:
Post a Comment